Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ribuan jenis komoditas yang dapat di ekspor ke luar negeri melalui jalur laut. Tak terkecuali Kota Makassar sebagai Hub Port Kawasan Timur Indonesia sesuai cita-cita Wapres Jusuf Kalla. Namun hal itu tentu tidak terlepas dari tantangan yang harus dihadapi untuk bisa meningkatkan perekonomian daerah tersebut. Ini yang kemudian menjadi pembahasan dalam seminar yang digelar Departemen Teknik Industri Universitas Hasanuddin bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Pusat Studi Logistik dan Supply Chain Kawasan Timur Indonesia (Puschati) di Gedung Center Scientific Activitu Kampus Teknik Unhas Gowa, Jl. Poros Bontomarannu, Senin (18/9).
Hadir dalam seminar itu yakni Direktur Utama PT Pelindo IV, Doso Agung yang membawakan materi tentang Peluang dan Tantangan Logistik Maritim di Indonesia dalam Kongres I dan Seminar Nasional ISLI (Institut Supply Chain dan Logistik Indonesia). Menurut Doso, jika bicara maritim bukanlah persoalan sederhana. Apalagi posisi Indonesia yang kepulauan. Dan maritim menduduki peran logistik. “Saat ini dengan direct call atau pelayaran langsung internasional, kita sudah bisa mengirim barang ke negara tujuan secara langsung dan tidak lagi melalui Surabaya.
Jika sebelumnya logisitk kita mahal karena harus ke Surabaya dulu dengan direct call tidak lagi,” ujarnya dihadapan ratusan mahasiswa dan peserta seminar lainnya. Doso Agung mencontohkan, pengalaman sebelumnya ikan-ikan yang di ekspor ke Jepang membutuhkan perjalanan selama 28 hari. “Karena dari Makassar harus ke Surabaya lagi, disana menunggu kapal yang menuju negara luar tiba di Jepang ikannya sudah tidak segar. Jadinya masuk ke minimarket dengan harga sale. Kelamaan di jalan. Waktu disini menjadi kriteria utama. Jika masih segar tentu mereka akan jual mahal. Itu yang pernah saya dapatkan saat ke Jepang,” katanya lagi.